Mari Beraksi untuk Bumi Kita

Minggu, 6 September 2015 23:57:01 - Posting by EkaImbia - 508 views

KoranPendidikan.com - Kepadatan penduduk bukanlah masalah baru bagi penduduk di dunia, termasuk Indonesia. Jumlah penduduk yang setiap tahun terus bertambah menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan lain, salah satunya adalah pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan di Indonesia terutama terjadi di daerah perkotaan, seperti di Jakarta, Surabaya, dan Malang. Hal ini dikarenakan arus urbanisasi yang tinggi. Banyak warga dari desa yang mengadu nasib di kota besar sehingga mengakibatkan kota besar menjadi banyak penghuninya.

Lingkungan yang kumuh, sampah yang terserak, dan rumah yang sempit telah menjadi pemandangan biasa ketika hidup di pinggiran kota besar. Aliran sungai pun menjadi terganggu, terhambat oleh sampah warga sehingga mengakibatkan banjir. Lahan pun semakin menipis. Sangat sulit dijumpai sawah dan pepohonon di perkotaan. Tanaman yang hijau kini telah banyak yang ditebang dan disulap menjadi pabrik, toko, rumah mewah, maupun kantor. Polusi pun semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kendaraan pribadi yang digunakan oleh warga perkotaan. Permasalahan semakin kompleks ketika warga yang tinggal di area tersebut tidak menyadari akan pentingnya menjaga lingkungan hidup di sekitarnya. Hal ini menjadikan deretan permasalahan di Indonesia yang semakin bertambah panjang.

Sebagai mahasiswa Biologi, tentunya lebih paham mengenai pentingnya lingkungan hidup untuk keberlanjutan ekosistem di alam ini. Apabila telah terjadi ketidakseimbangan tentu akan berakibat buruk pada seluruh kehidupan semesta. Oleh karena itu, demi terciptanya bumi yang hijau kembali, bumi yang bebas dari pencemaran maka yang paling penting adalah kesadaran dari diri masing-masing. Memang tak dapat dipungkiri, jumlah penduduk selalu meningkat setiap tahunnya dan nyatanya banyak menimbulkan berbagai dampak negatif. Mustahil jika kita ingin menghilangkan semua dampak negatif tersebut karena setiap sebab akan menimbulkan akibat. Itulah hukum kausalitas yang memang tak dapat ditentang. Konsekuensi.

Alangkah lebih baiknya, ketika muncul dampak negatif dari setiap permasalahan, mahasiswa sebagai agent of change dapat menggebrak dengan perubahan nyata untuk mengurangi dampak negatif tersebut. Lalu sebagai mahasiswa, apa yang bisa dilakukan? Ketika belum mampu menangani permasalahan besar yang melanda di Indonesia seperti yang telah disebutkan di atas, tentu saja bisa memulai aksi dari hal terkecil dari diri sendiri. Sebagai contoh dari tindakan nyata untuk keberlangsungan lingkungan hidup adalah dengan mengurangi penggunaan kertas. Bagi mahasiswa, kertas dapat dikatakan sebagai pendamping hidupnya. Setiap harinya, mahasiswa selalu menggunakan kertas, terutama untuk penulisan makalah. Jika saja ada 500 mahasiswa di suatu daerah dan setiap hari perorang menggunakan 30 lembar kertas, berapa lembar kertas yang dihabiskan setiap tahunnya? Tentu saja sangat banyak kertas yang dihabiskan. Upaya kecil yang kadang tidak kita sadari adalah dengan menggunakan kertas secara bolak-balik. Mungkin sebagian kita masih jarang melakukannya karena memang akan kelihatan lebih tidak rapi. Namun yang harus kita ingat adalah bumi kita. Jika kita mampu menghemat setengahnya, berapa banyak kayu yang kita hemat untuk tidak ditebang? Untuk menjaga bumi kita tetap hijau.

Selain pengurangan penggunaan kertas, hal yang dapat dilakukan mahasiswa untuk menjaga lingkungan adalah mengurangi penggunaan tissue, membuang sampah pada tempatnya, dan membuat bahan daur ulang. Mari beraksi, tunjukkan bahwa mahasiswa sebagai agent of change. Satu langkah nyata yang kita lakukan tentu akan membawa dampak positif untuk bumi kita, untuk Indonesia.

Tags #eka imbia